Home The News Pemerintah AS, Militer Mendapat Ponsel Secure Android
Pemerintah AS, Militer Mendapat Ponsel Secure Android PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 08 February 2012 01:15
Tahun ini beberapa pejabat AS berharap mendapatkan smartphone yang dapat menangani dokumen rahasia pemerintah ke seluruh jaringan seluler, menurut orang yang terlibat dalam project.

Ponsel tersebut akan menjalankan versi modifikasi dari software Android milik Google, yang telah dikembangkan sebagai bagian dari initiatif yang tersebar ke berbagai agensi federal dan kontraktor pemerintah, kata orang tersebut.
 Seorang tentara AS memeriksa hpnya saat sedang berpatroli di Iraq pada bulan Desember. Smartphones pertama disebarkan untuk tentara
 
Smartphone pertama akan dikerahkan untuk tentara AS, kata orang-orang yang familiar dengan proyek tersebut. Kemudian, agensi federal berharap mendapatkan ponsel untuk mengirimkan dan menerima telegram pemerintah saat mereka diluar kantor, kata narasumber. Nantinya, pemerintah setempat dan korporasi dapat memberi pegawainya ponsel dengan software yang serupa.

Militer telah menguji perangkat layar sentuh di markas US selama hampir 2 tahun, kata Michael McCarthy, direktur dari Army's Brigade Modernization Command, di wawancara via telpon. Sekitar 40 ponsel dikirimkan ke pejuang di luar negeri tahun lalu, dan militer berencana untuk mengirimkan 50 ponsel lagi dan 75 komputer tablet ke prajurit yang berangkat pada bulan Maret, katanya.

"Kami telah memiliki sejenis proses persetujuan percepatan," kata McCarthy. "Ini merupakan event yang sangat signifikan."

Akhir-akhir ini, AS tidak memperbolehkan pegawai pemerintah atau tentara menggunakan smartphones untuk pengiriman pesan rahasia karena perangkat tersebut tidak memiliki sertifikasi keamanan.

Pejabat tersebut mengatakan mereka khawatir para hacker atau aplikasi jahat dapat menyadap ke versi komersial Android dan membocorkan rahasia negara ke pemerintah asing atau ke internet melalui publisher seperti WikiLeaks. Sebanyak 5 juta pengguna Android mungkin memiliki ponsel yang terinfeksi virus baru yang bersembunyi dibalik aplikasi yang ditemukan di Google's Market, kata pembuat software keamanan Symantec.

Tapi dengan smartphone yang aman, seorang tentara dapat melihat rekan infanteri pada peta digital, atau seorang pejabat dapat mengirimkan berita penting dari Subway Kota Washington tanpa khawatir pelanggaran keamanan.

Developer di program pemerintah telah menyelesaikan sebuah versi yang telah diautorisasi untuk penyimpanan dokumen rahasia tapi tidak memancarkannya melalui jaringan seluler, kata 2 orang yang berkontribusi pada inisiatif tersebut. Smartphones mengamankan pengiriman informasi top secret tingkat tinggi yang akan mempengaruhi keamanan nasional bila tersadap -- berharap telah siap pada beberapa bulan mendatang, kata mereka.

Daripada membangun perangkat handset khusus dengan komponen yang aman, pemerintah berencana untuk menginstal software tersebut pada ponsel yang tersedia secara komersial, kata orang yang terkait dengan project. Pendekatan ini jauh lebih murah dan memungkinkan pemerintah untuk tetap update dengan ponsel terbaru di pasaran, katanya.

Android vs Apple
Terdapat ratusan model Android yang berbeda, dan lebih dari setengah dari penjualan smartphones dunia dalam kuartal ini menggunakan Android, menurut perusahaan riset industri Gartner.

Verizon Wireless telah menjual lebih banyak ponsel Android dari pada seluler lain di AS, sebagian berkat pemasarannya yang menekankan minat pada merek Droid. Sekitar tahun lalu, Verizon juga mendapatkan iPhone, namun diakhiri dengan eksklusifitas AS yang dimiliki AT&T dengan perangkat tersebut.

"Terdapat banyak minat di Android," Bryan Schromsky, seorang direktur Verizon untuk wireless data services, katanya via telpon. "Kami melihat penjualan Android di semua cabang pemerintah."

Namun tetap iPhone dan iPad dari Apple juga sangat diminati pejabat-pejabat AS dan orang yang terlibat di program smartphone AS mengatakan tujuan mereka adalah untuk mendukung semua tipe smartphone. Seperti dilaporkan CNN, Kepala Joint Chiefs of Staff, Gen. Martin Dempsey, menggunakan iPad untuk intelejen rahasianya dengan mengunduh telegram dan memutuskan koneksi jaringan.

Namun, pemerintah lebih memilih untuk menggunakan Android karena Google telah mengijinkan pengguna untuk memodifikasinya dengan bebas, kata mereka yang bekerja pada project tersebut. Pejabat federal telah bertemu dengan Apple, tapi mereka diberitahu bahwa mereka tidak bisa mendapatkan akses ke core dari sistem operasi mobile milik perusahaan tersebut, kata Angelos Stavrou, Direktur Keamanan Informasi di Universitas George Mason yang bekerja pada proyek pemerintah sebagai kontraktor, melalui wawancara via telpon.

"Android lebih kooperatif dalam mendukung beberapa kapabilitas yang kami inginkan untuk didukung dalam sistem operasi, dimana Apple enggan melakukannya," kata Stavrou ke CNN. "Mereka sekarang beralih stategi".

Juru bicara Apple menolak berkomentar pada pertemuan tersebut atau beberapa perubahan pada strateginya.

Google menerbitkan source code Android di websitenya untuk diunduh dan dimodifikasi oleh siapapun, dan beberapa partner telah memberikan akses ke code sebelum yang lainnya. Juru bicara Google menolak untuk berkomentar tentang proyek pemerintah.

Ketika Google merilis versi baru Android atau ketika versi baru dari ponsel tersebut keluar, update yang kompatibel untuk software secure Android milik pemerintah akan siap dalam 2 minggu, kata Stavrou.

Penekanan pada Keamanan
Para programmer pemerintah sedang membuat modifikasi keamanan untuk kernel Android, yang merupakan komponen pusat dari sistem operasi tersebut. Versi tersebut akan mengijinkan pengguna untuk memilih data mana dari Android dan aplikasi tersebut dapat dikirim ke internet, kata mereka.

"Ketika kami mengunduh sebuah aplikasi ke ponselmu, kamu tidak benar-benar mengetahui apa itu sebenarnya," kata Stavrou. "Kami menguji aplikasi di laboratorium sebelum user menggunakan aplikasi tersebut."

Setelah menguji lebih dari 200.000 aplikasi, para peneliti menemukan bahwa banyak program yang meminta akses ke informasi yang terlalu pribadi yang terdapat di ponsel lebih dari yang mereka butuhkan, lebih mengkhawatirkan lagi, data-data tersebut dikirimkan ke server mereka, kata Stavrou.

Bahkan beberapa fitur yang terlihat bagus dapat membahayakan keamanan nasional jika dibiarkan tidak diperiksa. Contohnya, aplikasi cuaca dapat secara otomatis mengirimkan koordinat GPS ponsel ke internet untuk pengiriman perkiraan cuaca setempat, atau game yang mengirimkan identifikasi unik dari perangkat bersamaan dengan high score.

Pada ponsel pemerintah, pejabat akan diminta dengan rinci tentang data apa yang akan dikirimkan, dan mereka dapat menolak atau mengijikan setiap transmisi, kata orang yang terlibat.

"Orang-orang ingin bermain 'Angry Birds', dan kami memang menginginkan orang-orang kami dapat mengunduh 'Angry Birds,' " kata Stavrou. Tapi dia menambahkan, "Jika sebuah aplikasi jam mendapatkan GPSmu dan mengirimkan sesuatu ke jaringan, itu yang tidak ingin kami dukung."

Stavrou bersama dengan 7 orang lainnya di George Mason dan National Institute of Standards and Technology, sedang mengembangkan software untuk smartphone. Mereka juga berkonsultasi dengan beberapa agensi federal, beberapa diantaranya dibawah Departemen Pertahanan, katanya. Dia menolak untuk menyebutkannya.

"Pemerintah sebenarnya sedang bekerja keras untuk menempatkan teknologi ini ke seluruh agensi," kata Stavrou. "Keamanan adalah perhatian semua orang."

Proyek Rahasia
Pejabat tidak banyak bicara tentang proyek tersebut sampai sekarang. Reuters dan bisnis penerbitan, termasuk Government Computer News dan Fedtech Magazine, telah lebih duluh melaporkan beberapa detailnya.

"Kami sangat memperhatikan apa yang kami rilis ke masyarakat," kata Stavrou. "Rincian teknologi telah menjadi sesuatu yang tidak kami ungkapkan ke masyarakat."

Proyek ini didanai oleh Defence Advanced Research Projects Agency, kelompok ini bertanggung jawab untuk pengembangan awal GPS dan internet, kata Stavrou. Departemen Pertahanan, yang menaungi agensi tersebut, telah menetapkan proyek smartphone sebagai prioritas, katanya.

National Security Agency telah ditugaskan untuk mengevaluasi software smartphone untuk sertifikasi, kata Stavrou. NSA memberikan persetujuan bagi versi awal sistem untuk menangani penyimpanan data rahasia pada perangkat, katanya.

NSA juga sedang melakukan sebuah sistem kompetisi yang disebut SE (Security Enhanced) Android, Stephen Smalley, seorang pejabat NSA, menuliskan bulan ini dalam sebuah email singkat ke kelompok pengembang software yang diperoleh CNN. SE Android kurang fleksibel dalam mendukung perangkat baru atau update Android dari Google dan tidak mungkin dikembangkan lebih luas, kata Stavrou.

Juru bicara NSA menulis dalam sebuah email, "Tujuan akhirnya adalah untuk memberikan pejuang perang, analis dan intelejen profesional lainnya akses ke informasi rahasia dimana saja -- mendongkrak inovasi, efisiensi dan produktifitas di lapangan."

Dalam sebuah pergerakan yang tidak biasa dari pemerintah federal, beberapa versi dari sistem operasi secure Android hanya akan memerlukan sertifikasi sekali sebelum dia dapat memasuki ke berbagai agensi AS, kata 2 orang yang terlibat dalam proyek tersebut. Biasanya, masing-masing agensi dapat melakukan uji keamanannya sendiri secara bebas, katanya.

Tidak biasanya NSA menyebarkan source code SE Android secara online. Hal yang sama akan dilakukan dengan proyek penelitian Defence Advanced yang didanai Agensi. Kelompok standarisasi OpenSSl Software Foundation membantu dengan memenuhi keamanan, kata Steve Marquess, co-founder dari perusahaan.

Smalley dari NSA mengumumkan rilis pertama dari SE Android dalam 2 kalimat pesan pada 6 Januari ke milis developer. Dia menutup dengan mengucapkan "Enjoy!".

"Kami telah melalui berbagai rintangan untuk mewujudkannya." Stavrou menyampaikan rencana untuk meng-open source-kan software tersebut. "Dengan melepas source code, orang lain akan dapat melihat dan memberitahu kami tentang bugs"

Ketertarikan Swasta
Banyak perusahaan telah menunjukkan ketertarikannya pada proyek smartphone pemerintah ini, kata pejabat. Perusahaan yang awalnya mengadopsi BlackBerry, sekarang tertarik pada Android, kata Schromsky dari Verizon. Juru bicara Apple juga mencatat bahwa hampir semua perusahaan Fortune 500 sedang mencoba atau telah memiliki pegawai menggunakan iPhones dan iPad.

Hambatan lain untuk pemerintah adalah menemukan cara untuk mengamankan voice call, kata Schromsky.

"Suara adalah kebutuhan mendesak," kata Schromsky. "Perangkat ini mengagumkan. Mereka bisa melakukan banyak hal, tapi akhirnya nanti aku tetap perlu melakukan voice call."

Proyek selanjutnya dari Defence Advance Research Project Agency adalah sertifikasi untuk data rahasia, developer berencana untuk mengerjakan keamanan sistem Android untuk komunikasi voice melalui IP menggunakan aplikasi seperti Skype, kata Stavrou. (Mark Milian, CNN)
 
(sumber: edition.cnn.com, 3 Februari 2012)