16:27:31 - 05.02.2012
| Asia Afrika Serius Kembangkan Open Source |
|
Oleh: Restituta Ajeng Arjanti Asia Africa Conference on Open Source (AAOS) yang digelar di Auditorium Gedung Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, 18-19 November 2008, membawa kabar baik bagi dunia open source, khususnya di negara-negara di kawasan Asia Afika. Hasil pertemuan ini menunjukkan keseriusan negara-negara peserta untuk mengadopsi open source sebagai platform teknologi mereka. Beberapa pembicara yang hadir dalam pertemuan itu antara lain Prof. A Min Tjoa dari Vienna University of Technology, Austria; Crawford Beveridge, Vice President Sun Microsystems; Jaijit Bhattacharya dari Sun Microsystems India; Aslam Raffee dari Departemen Sains dan Teknologi Afrika Selatan; Van Hoai Tran dari Ho Chi Minh University of Technology; serta Kazuhiro Oki dari Center of the International Cooperation for Computerization.Sementara dari Indonesia, hadir Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Sekjen Departemen Komunikasi dan Informatikan Ashwin Sasongko, Duta Open Source Indonesia Betti Alisjahbana, Onno W. Purbo, Hasanuddin Saidin dari IBM ASEAN, Zainal Hasibuan dari Universitas Indonesia, serta Benhard Sitohang dari Institut Teknologi Bandung. AAOS merupakan hasil rekomendasi Konferensi Asia Afrika pada tahun 2005, untuk mengatasi masalah kesenjangan digital di negara-negara berkembang di kawasan Asia Afrika. AAOS pun sudah digagas dalam pertemuan World Summit on the Information Society (WSIS) di Geneva, Swiss, pada 2003. Sebanyak 160 peserta dari 13 negara yaitu Malaysia, Austria, Jepang, Iran, Palestina, Afrika Selatan, Kuwait, Aljazair, India, Vietnam, Amerika, Jerman, dan Indonesia ikut serta dalam pertemuan itu. Topik-topik yang dibahas di sana antara lain perkembangan serta tren dan kebijakan-kebijakan terkait implementasi open source software di kawasan Asia Afrika. Tiga Mitos Open Source Dalam sambutannya, Selasa (18/11), Menristek Kusmayanto Kadiman mengemukakan tiga mitos negatif seputar open source di kalangan pengguna komputer. Pertama, open source dianggap hanya layak digunakan oleh pakar TI. Kedua, masih banyak kalangan pebisnis yang mempertanyakan keuntungan dari open source. Dan ketiga, masih banyak orang pesimistis terhadap dukungan untuk open source, misalnya ketersediaan aplikasi dan hardware yang mendukung. Mitos ini merupakan tantangan yang harus dipatahkan oleh para pendukung open source. Menristek kemudian menceritakan pengalaman penerapan open source di Kementrian Ristek yang dikatakannya menggunakan pendekatan iron fist in a velvet glove. Kusmayanto mengharuskan semua komputer di kementrian Ristek menggunakan software legal dan di mana tersedia versi open source, digunakan versi open source. Saat ini hampir semua komputer di Kementrian Ristek menggunakan Open Source, kecuali sebagian kecil yang menggunakan proprietary software karena berhubungan dengan sistem di departemen lain (seperti pajak) yang saat ini baru menerima format proprietary. Kusmayanto dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa kemeja batik yang dikenakannya saat itu adalah batik fraktal yang dibuat dengan menggunakan software jBatik yang juga open source. jBatik adalah karya Pixel People Project Research & Design yang baru saja memenangkan penghargaan APICTA (Asia Pacific Information and Communications Technology Awards) untuk kategori tourism and hospitality. Cerita Sukses dari Afsel Hal menarik dikemukakan oleh Kepala Informasi Departemen Sains dan Teknologi Afrika Selatan, Aslam Raffee. Diakui Aslam, aplikasi open source ikut membantu perkembangan industri software lokal di negaranya. Kabinet Afrika Selatan, pada 2007, telah mengadopsi kebijakan free open source software. Tercantum dalam kebijakan itu adalah pemilihan open source software, migrasi dari proprietary software ke open source software, pengembangan, penggunaan, serta pengenalan open source di masyarakat. Saat ini, kata Raffee, pemerintah Afsel sudah sampai pada tahan kelima, yakni memperkenalkan dan mendorong penggunaan open source di kalangan masyarakat. Menurut Raffee, respon masyarakat, terutama kalangan industri lokal di Afsel, terhadap kebijakan itu sangat positif. Kesuksesan negaranya mengimplementasikan open source juga berkat dukungan banyak pihak, termasuk dari perusahaan-perusahaan TI seperti IBM, Sun Microsystem, dan Google. Kampanye Open Source di Indonesia Di Indonesia, kampanye open source terus dilakukan oleh banyak pihak. Salah satunya oleh Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI). Betti Alisjahbana, Duta Open Source Indonesia sekaligus Ketua Umum AOSI, menyampaikan, sudah cukup banyak organisasi di Indonesia yang menggunakan open source software, baik organisasi pemerintahan, BUMN, perusahaan swasta, atau perguruan tinggi. "Sekarang sudah ada 18 departemen pemerintahan, termasuk Depdiknas dan beberapa pemerintah daerah yang berkomitmen untuk migrasi ke open source. AOSI siap mendukung mereka dengan melakukan sosialisasi kepada jajaran pimpinan dan pengguna, serta menyelenggarakan workshop untuk membangun rencana migrasi. Semoga hal ini bisa diikuti yang lain," ujar Betti. Di dalam paparannya Betti menyampaikan para penyedia dukungan open source harus menutup gap yang ada antara apa yang telah tersedia pada software open source dan apa yang dibutuhkan oleh enterprise. Open source software bercirikan biaya rendah atau gratis, kualitas tinggi, memiliki fungsi-fungsi yang unik, tidak tergantung pada satu vendor dan banyak pilihan. Enterprise membutuhkan software yang mudah di adopsi, ketersediaan dukungan, kinerja yang bagus dan dapat diandalkan serta skalabilitas. Betti optimis open source akan berkembang di Tanah Air. Dia menyampaikan, untuk mempercepat adopsi open source di Tanah Air, AOSI mengembangkan one-stop portal open source Indonesia untuk mempromosikan open source, mendaftar penyedia dukungan dan peta dukungan open source, serta mempublikasikan kisah dan tips sukses implementasi open source di Tanah Air. Pelatihan teknis dan bisnis pun akan diselenggarakan. AOSI juga akan mengadakan focus group discussion dengan pemerintah dan departemen terkait untuk membahas program dan regulasi untuk mendukung pertumbuhan open source di Indonesia. Jakarta Declaration Puncak dari AAOS adalah dihasilkannya Jakarta Declaration. Dalam deklarasi itu, para peserta konferensi menyatakan komitmennya untuk menyebarluaskan free open source software, serta mengembangkan program e-government untuk memberdayakan masyarakat. Para peserta sadar bahwa free open source software merupakan alternatif untuk mengurangi kesenjangan digital, serta alat berharga yang memungkinkan perkembangan kerja sama antarnegara dan dapat mendorong perkembangan industri software lokal. Mereka juga sepakat untuk mendorong negara-negara di kawasan Asia Afrika untuk bertukar pengalaman, pengetahuan, serta teknologi komunikasi dan informasi melalui model kerja sama yang inovatif. Dalam pertemuan, disusun pula konsep action plan untuk memperluas penggunaan open source software di kalangan pemerintahan, BUMN, pendidikan, dan penelitian; menetapkan key performance indikator untuk mengukur kemajuan adopsi open source; serta berkolaborasi di berbagai bidang untuk memperluas pengadopsian open source di kawasan Asia Afrika. Open Source untuk Pendidikan Dalam Asia Africa Conference on Open Source di Jakarta, Prof. A Min Tjoa dari Vienna University of Technology, Austria, menyinggung tentang pentingnya open source di dunia pendidikan. Menurutnya, open source bisa memudahkan transfer pengetahuan dan pengembangan dunia pendidikan. "Bayangkan apa jadinya jika Isaac Newton mematenkan konsep gravitasi dan menarik biaya lisensi ke orang-orang yang ingin menggunakan konsep itu," ini disampaikan A Min Tjoa dalam materinya. Penerapan open source di dunia pendidikan, dia memberi contoh, bisa dilihat pada International Children's Digital Library (ICDL) yang dibuka sejak tahun 2002. Menurutnya, saat ini ICDL sudah dilengkapi lebih dari 2.800 buku anak-anak. Siapa saja bebas mengunjungi perpustakaan digital ini untuk mendapatkan ilmu. Contoh lain adalah ensiklopedia online Wikipedia yang hingga kini menampilkan total 10 juta artikel dalam 236 bahasa. Konsep open source pun mungkin untuk diterapkan pada hardware. Contohnya adalah laptop "XO" berbasis platform open source yang digagas oleh Nicholas Negroponte dalam projek OLPC (one laptop per child). "Ini adalah proyek edukasi, bukan proyek laptop," ungkap Negroponte, disampaikan dalam presentasi A Min Tjoa. Karena ICT merupakan katalis untuk inovasi di berbagai bidang, sistem ICT yang terbuka sangat diperlukan oleh dunia pendidikan. Meski sudah makin banyak teknologi yang diterapkan untuk mendukung dunia pendidikan, masih banyak tugas yang harus dilakukan untuk untuk mengembangkan dunia pendidikan. Open source dianggap sebagai salah satu solusi untuk memajukan dunia pendidikan. (amar/igos - QBHeadlines.com) |
Beberapa pembicara yang hadir dalam pertemuan itu antara lain Prof. A Min Tjoa dari Vienna University of Technology, Austria; Crawford Beveridge, Vice President Sun Microsystems; Jaijit Bhattacharya dari Sun Microsystems India; Aslam Raffee dari Departemen Sains dan Teknologi Afrika Selatan; Van Hoai Tran dari Ho Chi Minh University of Technology; serta Kazuhiro Oki dari Center of the International Cooperation for Computerization.