16:14:48 - 05.02.2012
| Menkominfo Membuka GCOS 2009 |
|
Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, membuka Global Conference on Open Source (GCOS) pada Senin, 26 Oktober 2009. Acara yang akan berlangsung selama dua hari, 26-27 Oktober 2009, di Shangrila Hotel, Jakarta ini diselenggarakan oleh Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI), dengan dukungan dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Departemen Komunikasi dan Informatika. GCOS menghadirkan banyak pembicara dari kalangan akademisi, pemerintahan, bisnis, dan komunitas dari dalam dan luar negeri. “Dari acara ini, kami berharap akan tercipta kolabarasi internasional antara pemerintah, bisnis, akademisi, dan komunita suntuk membuat open source software menjadi lebih atraktif dan bernilai bagi masyarakat", kata Betti Alisjahbana, Ketua AOSI sekaligus Duta Open Source Indonesia.GCOS diramaikan dengan konferensi, workshop, dan pameran. Ada pula seminar yang membawakan topik seputar inisiatif pemerintah untuk pengembangan open source di Tanah Air, model bisnis menggunakan open source software, serta proyek-proyek pengembangan komunitas open source. “Pengembangan open source software sangat positif. Saat ini free open source software (FOSS) telah tumbuh pesat dan berubah modelnya dari yang dikembangkan oleh universitas dan komunitas, menjadi mengarah ke industri dan pemerintah", ujar Menkominfo saat membuka GCOS. Menurut Menkominfo, FOSS dapat menjadi solusi di tengah semakin tingginya tingkat pembajakan. FOSS juga juga dapat mendorong industri software untuk melakukan pengembangan dengan biaya rendah dan menyediakan keunggulan kompetitif untuk membangunn kemandirian bangsa. Lewat GCOS, Menkominfo berharap Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam mengimplementasikan open source. Hari pertama GCOS diisi oleh panel diskusi yang menampilkan empat pembicara, yakni Sunil Abraham, Executive Director di Centre for Internet and Society (CIS), India; Marino Marcich, managing Director of Open Document Format (ODF) Alliance; Hong-Eng Koh, Regional Director, Asia South Goverment, Education & Healthcare, Sun Microsystems, Inc; dan Duta Besar Brasil untuk Indonesia, Manuel Innocencio Santos. Salah satu pembicara dalam konferensi, yang mewakili kalangan bisnis, adalah Indra Utoyo, Chief Information Technology PT Telkom Indonesia. Indra membagi pengalaman dan strategi Telkom dalam mengimplementasikan open source. Menurutnya, ada beragam alasan bagi perusahaan untuk menggunakan open source software. Selain mudah digunakan, open source juga menyediakan akses untuk source code serta mengurangi tingkat ketergantungan pengguna TI terhadap vendor atau produk proprietary. GCOS juga menampilkan sejumlah pakar dan praktisi lainnya di dunia open source. Beberapa pembicara dari mancanegara antara lain Krich Nasingkun (Thailand), Muhammad Rosli bin Abd Razak (Malaysia), Ray Davies (IBM), dan Campbell O. Webb (Harvard University). Sejumlah pakar dan penggiat open source juga tidak ketinggalan berbicara dalam forum ini, seperti Onno W Purbo, I Made Wiryana, Ashwin Sasongko (Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo), dan Gustaff Hariman Iskandar (komunitas kreatif Common Room, Bandung). Pada hari kedua, 27 Oktober 2009, GCOS masih akan menampilkan berbagai seminar dan panel diskusi. GCOS hari kedua juga akan diisi dengan tiga jenis workshop, yakni workshop Character Animation using Blender, FOSS for Health dan Network Analysis & Troubleshooting@Enterprise. (amar/igos - QBHeadlines.com) |
GCOS menghadirkan banyak pembicara dari kalangan akademisi, pemerintahan, bisnis, dan komunitas dari dalam dan luar negeri. “Dari acara ini, kami berharap akan tercipta kolabarasi internasional antara pemerintah, bisnis, akademisi, dan komunita suntuk membuat open source software menjadi lebih atraktif dan bernilai bagi masyarakat", kata Betti Alisjahbana, Ketua AOSI sekaligus Duta Open Source Indonesia.