00:44:10 - 18.05.2012
| Hanya 198 Website Pemda Aktif |
|
PONTIANAK, TRIBUN - Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) akan menggelar Seminar dan Workshop eGOSS' 2010 dengan tema membangun e-Government yang efektif menuju Good Governance dengan optimalisasi Free Open Source yang akan dilaksanakan di Hotel Mercure Pontianak pada 7-8 Mei 2010.
Ketua Panitia Seminar dan Workshop eGOSS' 2010, Eva Faja Rifanti menjelaskan kondisi dewasa ini yakni tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik menjadikan pemerintah daerah mau tak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang menjanjikan efsiensi yang tinggi dan pelayanan yang lebih baik. Pemerintah Indonesia sendiri telah menerbitkan Inpres No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan e-Government, hal ini merupakan salah satu komitmen pemerintah. "Tapi yang terjadi masih lambannya pengembangan e-Gov di Indonesia. Karena masih rendahnya `awareness' sebagian besar pengambil keputusan akan potensi telematika, khususnya e-Gov dalam mempercepat proses reformasi," katanya kepada Tribun. Di lihat dari pelaksanaan aplikasi e-Gov, data dari Depkominfo menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2005 lalu Indonesia baru memiliki 564 domain go.id, 295 website pemerintah pusat dan pemda, 226 website telah mulai memberikan layanan publik melalui website, dan 198 website pemda masih dikelola secara aktif. "Permasalahan yang muncul penetrasi IT belum sampai ke daerah pelosok sehingga masyarakat di daerah sulit atau bahkan tidak dapat layanan dari e-Gov. Penggunaan ICT dalam proses business organisasi belum jadi budaya terlebih pada birokrasi pemerintahan. Terlebih dengan kualitas SDM IT yang masih kurang," ungkapnya. Lanjut Eva, hal ini mesti didukung pada perangkat lunak yang dipakai. Pemerintah Indonesia melalui KMNRT (Kementerian Negera Riset dan Teknologi) telah menginisiasi pengembangan perangkat lunak (sistem operasi maupun aplikasi) yang berbasis open source dan menyebarluaskannya secara gratis. "Ketergantungan masyarakat umum dan bahkan instansi pemerintah dalam menggunakan perangkat lunak berbayar masih sangat dominan. Makanya, perlu upaya mengubah perilaku penggunaan perangkat lunak ilegal dengan mendiseminasikan perangkat lunak gratis dan terbuka (free open source software) yang dikembangkan Indonesia maupun pihak lain yang tersedia secara luas di Internet," tambahnya. Hadir dalam kegiatan ini nantinya selain dari pemerintah daerah, ada juga akademisi dan praktisi IT. Salah satu yang akan menjadi pembicaranya dari Swiss German University. Pendaftaran dilakukan secara online dengan mengunjungi http//informatika.untan.ac.id/eGOSS. (Sumber: Tribun Pontianak Cetak) |